Thursday, November 16, 2006

Tukang Sampah sehari

Karena nulis tentang kotak Takakura di Loenpia jadi pengen nulis pengalaman gw ikut pelatihan pengelolaan komunitas di PUSDAKOTA, Universitas Surabaya selama 3 hari. PUSDAKOTA adalah lembaga kemasyarakatan yang dikelola secara mandiri dibawah Universitas Surabaya, Surabaya. Kegiatan PUSDAKOTA berhubungan dengan pengelolaan komunitas perkotaan di Surabaya. Sehubungan dengan kerja gw di BINTARI yang salah satunya menyebarkan pengelolaan sampah komunitas perkotaan jadi gw dikirim ke PUSDAKOTA bersama Amalia untuk belajar bagaimana mengelola suatu komunitas dalam pengelolaan lingkungan karena PUSDAKOTA sudah mempunyai pengalaman yang sangat banyak dalam pengelolaan komunitas terutama yang berhubungan dengan sampah. Metode pelatihannya sih dalam bentuk brainstorming soalnya peserta pelatihannya cuman 2 hehe~
Ada beberapa hal yang sangat membekas didalam pelatihan dengan PUSADKOTA kali ini:

Jadi tukang sampah sehari
PUSDAKOTA sendiri sudah mendampingi mastarakat Surabaya dalam pengelolaan sampah yang salah satunya di beberapa RT di kawasan Rungkut Lor, Surabaya. Kawasan ini dahulunya lumayan kumuh dan kalau musim hujan pasti banjir. Dengan pengelolaan komunitasnya PUSDAKOTA berhasil mendorong masyaralat warga RW IV, Rungkut untuk mengusahakan kampung yang lebih asri sehingga kini disudut-sudut kampung banyak terdapat tanaman walaupun di sudut yang sangat sempit sekalipun. Selain itu masyarakat di kampung ini sudah memisahkan sampahnya antara sampah organik dan non organik dan yang nantinya dikumpulkan oleh PUSDAKOTA untuk dikelola menjadi pupuk kompos. untuk mendorong sebuah komunitas kita harus memberikan teladan terlebih dahulu agar komunitas yang kita dampingi juga mempunyai motivasi yang sama dengan kita. Di PUSDAKOTA ini gw seperti direfresh krn seringkali gw lupa bahwa di dalam dalam sebuah pendampingan pengetahuan saja tidaklah cukup, salah satu caranya ya jadi tukang angkut sampah. Kebanyakan dr kita pasti sering mengabaikan peran tukang angkut sampah di sekitar tempat tinggal kita, kita seringkali lupa dan cuma dongkol kalo sampah kita terlampat diambil pak tukang angkut sampah padahal mereka juga manusia yang perlu disapa, yang senang kalau namanya dipanggil, yang senang di beri sesuatu walaupun kecil nilainya bagi kita, yang bisa sakit juga kalau kecapekan. Dengan jadi tukang sampah selama setengah harian gw seperti disadarkan apa artinya tukang angkut sampah bagi gw, rumah gw ataw di komunitas tempat tinggal gw. Apa jadinya kalo gak ada bapak angkut sampah dan sampah kita di rumah gak diangkut? Ngelanjutin cerita jadi tukang sampah tadi, gw ama Amalia sempet ngangkut sampah di 3 RT di rungkut, kalo disana tukang sampahnya manggil sampahnya bukan ngambil. jadi sudah ada beberapa titik yang ditentukan buat ngumpulin sampah, begitu kita lewat rumah terus setengah teriak ataw teriak sekalian 'sampah! sampah!!' kayak tukang roti yang lewat depan rumah. kita berhenti disebuah titikk dan warga keluar dr rumahnya masing-masing untuk membawakan sampahnya ke kita buat dikumpulin di gerobak yang tentu saja sudah dipisahkan antara yang organik dan non organik karena gerobak sampahnya juga sudah didesign buat misahin yang organik dan non organik sehingga memudahkan untuk dikumpulkan untuk dibuat kompos. Intinya sih sebenernya pengelolaan sampah itu buka sekedar tanggung jawab pak tukang sampah, pak RT/RW atau pemerintah aja tapi tanggung jawab kita juga yang buang sampah :)

Makan siang bersama
Di PUSDAKOTA punya 'ritual' makan siang bersama buat staffnya termasuk tamu atau siapapun yang sedang ada di PUSDAKOTA pas jam makan siang :) Makan siang bersama ini tidak seperti makan siang bersama lainnya yang hanya makan tapi digunakan untuk sharing tentang apa saja yang dialami oleh komunitas PUSDAKOTA selam sehari, jadi kita bisa berbagi dengan bercerita apa yang kita sudah alami, sesuatu yang berkesan, sesuatu yang menyebalkan, sesuatu yang bisa menjadi refleksi kita sendiri, pokoknya bebas mau ngomong apa aja. Disini
kita diajarkan untuk berbagi dengan sesama kita karena seringkali kita 'tertutup' dengan sesama kita sendiri dan dimakan siang ini kita diajarkan bahwa kita ini sederajat, mau itu tukang sampah, tukang siram tanaman kantor maupun manajer, hanya peran kita yang berlainan. 3 hari makan siang yang berkesan karena gw 'terpaksa' harus berbagi dengan teman-teman yang lain di PUSDAKOTA, bukan karena tidak mau berbagi tapi memang gak terbiasa. Tapi setelah mkn siang pertama kayaknya udah lumayan buat ber-refleksi harian haha~ Hal yang paling berkesan lagi bahwa makan siang selama 3 hari itu yang berpuasa melayani makan siang yang tidak berpuasa (krn pas bulan puasa kmrn). Di PUSDAKOTA mereka sudah sadar bahwa puasa itu bukan sekedar kewajiban jadi kalau ada orang yang tidak berpuasa terus makan didepan mereka sih ya gpp karena itu sudah jadi hal yang biasa. Tapi kata Mas Gatot (fasilitator kita) memang itu perlu proses, jujur aja sebagai satu-satunya orang non muslim dikantor kadang gw cukup tertekan kalo di'omelin' pas gak sadar makan ataw minum di dpn teman kantor yang lain, gw seringnya komen 'lah puasa kok ngedumel' hehe~

Tulisan ini didedikasikan buat temen-temen di PUSDAKOTA yang sudah meng-encourage gw selama pelatihan kemarin. Salam Lestari!!!

3 comments:

  1. jadi inget iklan lifeboy yang anak kecil rame2 bersihin sampah...

    ReplyDelete
  2. yg pasti jadi tukang sampah tuh gak gampang :)

    ReplyDelete
  3. Keren Mas,
    bener2.. think globally act locally.

    salut!

    ReplyDelete