<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=10674456&amp;blogName=Will+you+keep+on+dreaming+or+live+you...&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fdidut.nomadlife.org%2Fdefault.aspx&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Mengelola sampah sendiri, mungkinkah?

Hutan sampah? Hih males banget ngebayangin-nya, tapi begitulah yang terlihat dari Kota Bandung dari berita beberapa waktu yang lalu. Kita dapat melihat buangan sampah yang meninggi sampai setinggi rumah bertingkat ataupun proses belajar murid sebuah sekolah yang sangat terganggu akibat bau yang sanget menyengat dari tumpukan sampah tersebut. Kalau kita melihat tayangan tersebut harusnya kita bisa membayangkan berapa lama lagi sih TPA di Kota semarang bisa menampung buangan sampah kita? Karena pola pengelolaan sampah yang relatif hampir sama di kebanyakan kota-kota di Indonesia. Sebagai bayangan kita saja kota semarang menghasilkan 3500M3 sampah setiap harinya atau setara dengan 600-700 ton/hari. Sekitar 61,95% merupakan sampah organik yang masig dapat untuk diolah kembali (PemKot Semarang,2001). Data juga menunjukkan bahwa sekitar 75% merupakan kontribusi buangan dari pemukiman atau dari rumah kita sendiri. Yang artinya kalau kita mau mengelola buangan sampah kita sendiri artinya kita sudah mengurangi beban TPA pada akhirnya.

Hah? Mengelola sampah kita sendiri? Repot-repot amat, wong tinggal dibuang ke depan rumah. Itu pasti pikiran sebagian besar dari kita, tapi sekarang toh ada pengelolaan buangan sampah organik rumah yang tidak merepotkan orang rumah dan tidak terlihat sebagai tempat sampah , namanya keranjang Takakura yang ditemukan oleh pak Takakura berkat penelitian beliau di Surabaya. Keranjang ini kalau dilihat ya sama dengan keranjang penyimpan baju atau koran yang dijual di supermarket karena memang dibeli dari tempat penjualan yang umum tetapi yang membedakan adalah keranjang Takakura didesign untuk menerima buangan sampah organik rumah yang akan mengubahnya menjadi kompos. Keranjang ini amat ’sakti’ kalo kata orang Surabaya yang sudah terlebih dahulu mencobanya karena keranjang ini bisa menerima buangan sampah organik rumah tangga selama sebulan penuh atau lebih dan tidak berbau sama sekali. Saya tahu kerepotan kita kalo menaruh tempat sampah didalam rumah yang diwadahi plastik, yang pertama pasti bau setelah sampah menumpuk setelah beberapa hari, kita juga melihatnya seringkali jijik melihat sampah yang membusuk, karena hal-hal tersebut pasti kita mengganti plastik untuk menampung setiap harinya yang berakibat kita harus menyediakan wadah plastik setiap hari, padahal wadah plastik itu sendiri merupakan beban sampah di TPA nantinya. Pengguna keranjang Takakura dengan pengelolaan yang benar selain tidak berbau, sampah yang dimasukkan juga tidak akan membusuk karena nantinya bakteri yang sengaja dimasukkan ke dalam keranjang ini akan memakan sampah yang kita buang dan menjadikannya kompos dengan proses fermentasi, bukan pembusukan. Caranya cukup dengan menimbun sampah dengan bakteri diatasnya dan diaduk. Sampah yang dibuangpun sebaiknya sampah yang segar seperti sisa sayur yang baru saja kita potong kita langsung masukkan, jadi kita juga tidak merasa jijik untuk melihatnya.

takakura neh (Small) (Pengguna sedang memasukkan sampahnya ke Keranjang Takakura)

Sekitar 50% dari pengguna keranjang Takakura di RW IX, Kelurahan Jomblang Kecamatan Candisari mengatakan bahwa mereka tidak pernah membuang sampah organik lagi dan malah beberapa dari mereka meminta sampah dari tetangganya karena sampah rumahnya sendiri sangat sedikit atau tidak sabar untuk melihat keranjangnya penuh dan ingin segera menggunakan komposnya. Ibu Suradi-pengguna di RW IX RT 03-mengatakan bahwa sampah yang dimasukkan memang tidak berbau dan seringkali malah harum seperti bau tempe. Memang masih ada pengguna yang kurang berhasil atau malah sampahnya busuk karena kurang mengelola sampah yang dimasukkan seperti diaduk secara teratur. Seperti badan manusia yang perlu perhatian, keranjang inipun perlu sedikit perhatian kalau mau bertahan selama tahunan.

Rata-rata buangan sampah kota adalah 0,5 kg/kapita/hari (Mengelola sampah perkotaan, H. R. Sudrajat, M.Sc, 2006) dan bila diasumsikan 60%-nya adalah sampah organik dan rata-rata penghuni rumah warga Kelurahan Jomblang adalah 4 orang, maka pengguna keranjang Takakura rata-rata bisa mengurangi buangan sampah organik rumah sebanyak 36 Kg/bulan. Jadi kalau ada cara yang mudah untuk membuat sampah kita tidak bau, mengurangi beban pikiran kita untuk menyediakan plastik setiap hari dan menyediakan pupuk kompos secara ’otomatis’ setiap bulan untuk tanaman depan rumah kita, apa salahnya kalau kita mencobanya. (Artikel terkait...)

“Mengelola sampah sendiri, mungkinkah?”

  1. Anonymous nobuko Says:

    halo...maafin ya lama tidak hubungi...sekarang aku sudah kerja ahli gizi @rumah sakitnya hiroo.aku lagi datang kesini ya.ciao!
    ini blogku.↓
    http://blog.goo.ne.jp/hari-raya-ceri-0303

  2. Blogger Adi Says:

    nobuko-chan, hounto ni hisahiburi da ne!! genki desuka..watashi ni meru shite kudasai, anata no keitai meru mada onaji deshou?

  3. Blogger ::: Achmad ::: Says:

    download takakura dimana yah ? :D

  4. Blogger Adi Says:

    download gimana nih maksudnya?

  5. Blogger ::: Achmad ::: Says:

    gak kok om.. cuman becanda... :P
    kapan nih acara kayak mangrove lagi
    kangen nyentuh air lageee.. hihihi

  6. Anonymous didats Says:

    nah, solusi ini perlu dikenalkan ke masyarakat nih. jangan semarang aja...

  7. Anonymous boku_baka Says:

    eheheh .. Mas Adi nganggep serius si Lowo. lowo kok dianggep serius. digoreng aja!!!

    btw, nice post. inspiring!

  8. Blogger Adi Says:

    didats: di surabaya udah ribuan kotak mas, kalo disini baru dimulai 2 bulan yang lalu..kalo ada yg mo jadi agen penyebar di kota lain sih bisa aja disebarin, ini kayaknya mo nyebar ke Bangka Belitung :)
    budi: hah..lowo goreng? gak kenyang :P

  9. Anonymous David Says:

    Mas, organisasi kampus saya (di Jakarta) hendak mengadakan charity. Dan harapan saya ini bisa menjadi salah satu cara menunjukkan perhatian kita terhadap alam, yang kian lama kian memburuk. Bagaimana kami bisa mendapat keranjang ini dalam jumlah cukup besar? Terima Kasih. Bisa saya minta kontaknya?