Friday, July 13, 2007

Bank (untuk) Kaum Miskin

Buku ini menceritakan pergulatan Muhammad Yunus dalam membuat bank untuk kaum miskin atau sekarang lebih dikenal sebagai Grameen Bank (Bank Pedesaan). Muhammad Yunus adalah penerima nobel perdamaian di tahun 2006. Alur bahasa dalam buku ini sungguh enak dibaca (walaupun terjemahan) dan sangat runut ketika menceritakan kehidupan Yunus sejak masa kecil hingga sukses dalam menjalankan Grameen Bank. Gw pikir buku ini wajib untuk dibaca untuk para aktifis, akademisi (terutama mahasiswa untuk mengasah mata hati kita) dan para pengambil kebijakan (yang biasanya membuat kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat miskin) selain baik sekali untuk dibaca oleh siapa saja karena bisa menginspirasi kita untuk melakukan apa saja yang kita bisa melihat penderitaan disekitar kita.

Bab-bab awal dalam buku ini dimulai dengan masa kecil Yunus yang dilahirkan di Kota Chittagong, Bangladesh pada tahun 1940 dan pengaruh beberapa orang yang akan menentukan karakter Yunus di masa dewasanya.Pada masa kecilnya Yunus sempat melihat sendiri kemerdekaan Pakistan dari pemerintah kolonial Inggris.

Cerita berlanjut dengan masa pendidikan Yunus di bangku kuliah dan gegar budaya yang dia dapatkan ketika mendapatkan beasiswa Fulbright ke Amerika.Di Amerila jugalah Yunus bersama-sama dengan pelajar Bengali lainnya mendeklarasikan dukungannya terhadap kemerdekaan Bangladeh dari Pakistan. Walaupun sempat mendapatkan perlakuan rasial dibeberapa kota yang dia singgahi di Amerika akan tetapi Yunus malah mendapatkan istri pertamanya di Amerika yang seorang amerika keturunan rusia.

Ketika Yunus kembali ke negara asalnya untuk mengajar di Universitas Chittagong, dia merasakan pergulatan batin yang sangat besar karena ilmu ekonomi yang dia ajarkan di kelas ternyata tidak membuat perubahan yang nyata dalam merubah masyarakat miskin yang dia lihat sepanjang hari di sekitar kampusnya sendiri dan juga melihat kenyataan bahwa kaum akademisi tidak mau bersuara terhadap kemiskinan walaupun sudah ada didepan mata mereka sendiri. Karena tidak tahan Yunus lalu menginisiasi sebuah pernyataan untuk memerangi bencana kelaparan yang terjadi di Bangladesh pada tahun 1974 dan dengan cepat mendapat sambutan postif dari kalangan akademisi yang lain.

Dimulai dari program kecil di Desa Jobra dimana Yunus memfasilitasi para petani untuk bercocok tanam di musim dingin. Selama musim dingin lahan pertanian tidak terpakai karena ada konflik diantara petani yang saling tidak percaya karena adanya masalah korupsi dan persoalan finansial dalam menjalankan sumur artesis untuk mengairi lahan pertanian mereka pada musim dingin.Yunus menjembatani para petani dengan para pemilik lahan untuk memanfaatkan lahan pertanian mereka di musim dingin dengan pembagian peran para pemilik lahan memperebolehkan lahan mereka dipakai musim kering, para petani menyumbangkan tenaganya dan Yunus sendiri sebagai penyedia biaya operasional untuk menjalankan sumur artesis untuk pengairan dan juga sebagai penyedia modal awal (bibit, pupuk dll). Walaupun pada awalnya Yunus sempat dicurigai para petani itu sendiri akan tetapi program yang dinamakan Pertanian Tiga Pihak akhirnya membawa hasil yang sangat positif karena para petani menghasilkan panen tanpa mengeluarkan uang sama sekali dan lahan pertanian yang biasanya tidak terpakai selama musim kering dapat menghasilkan.

Dari Jobra inilah Yunus mulai melihat bahwa kaum perempuan menjadi korban yang paling besar dari kemiskinan itu sendiri dan melihat bagaimana program-program pembangunan tidak berpihak pada kaum miskin. Yunus melihat bagaimana pengrajin-pengrajin kecil hanya berkutat pada lingkaran setan yang diciptakan oleh para rentenir sehingga mereka tidak bisa meninggalkan kemiskinan mereka karena hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dan membayar hutang-hutang mereka beserta bunga yang tampaknya tidak akan bisa terlunasi karena sistem yang diciptakan oleh rentenir hanya akan menguntungkan mereka sendiri. Dari Jobra iniah Yunus terenyuh, geram dan sadar harus berbuat sesuatu karena hanya dengan mengeluarkan uang sebesar 27US$ (sekitar Rp. 250.000) dari kantongnya sendiri dia dapat membantu 42 orang untuk menghapus hutang mereka dari rentenir dan dia melihat hal tersebut di seluruh Bangladesh dimana hanya segelintir orang yang dapat menikmati kemakmuran ekonomi.

Berawal dari kesadaran ini Yunus lalu menjaminkan dirinya untuk meminjam uang dari bank karena bank tidak akan memberikan kredit kepada orang miskin karena orang miskin tidak mempunyai sesuatu yang bisa dijaminkan. Uang yang diperoleh dari bank Yunus pinjamkan kepada orang miskin terutama perempuan tanpa jaminan dan proses birokrasi dan pengembaliannya dapat dicicil dalam pengembalian harian. Uang yang dipinjamkan di gunakan oleh orang miskin untuk membuat usaha mereka sendiri dan pengembalian harian tidak memberatkan karena sangat-sangat kecil.

Dari sinilah konsep Grameen berkembang dimana para wanita yang ingin mendapatkan kredit harus membentuk kelompok supaya ada saling dukung dalam membuat usaha masing-masing dan juga dalam rangka pengawasan diantara mereka sendiri. Dan ternyata para kaum miskin yang tidak dipercaya untuk mendapat kredit dari bank konvensional, selalu mengembalikan pinjaman mereka secara tertib. Mereka sadar bahwa pinjaman kredit tersebut hanya satu-satunya jalan keluar dari garis kemiskinan. Kenapa perempuan? Karena Yunus melihat bahwa perempuan selalu menjadiu korban yang paling awal ketika terjadi bencana didalam sebuah keluarga di Bangladesh dan perempuan tidak mempunyai kekuatan dalam mengambil keputusan akan tetapi ternyata kaum perempuan lebih bisa mengoptimalkan pinjaman kredit yang diberikan daripada laki-laki karena perempuan bisa untuk lebih mempunyai visi ke depan didalam pengelolaan finansial karena mereka selalu memikirkan nasib anak-anak mereka di masa yang akan datang di bandingkan dengan kaum laki-laki yang lebih mementingkan kesenangan mereka sendiri jika mendapatkan keuntungan.

Bab-bab selanjutnya menceritakan bagaimana konsep Grameen Bank benar-benar diwujudkan menjadi sebuah bank, bagaimana perjuangan Yunus untuk meyakinkan pemerintah lokal bahwa konsep Grameen Bank dapat diaplikasikan di setiap jengkal daerah kemiskinan yang ada di Bangladesh, bagaimana konsep Grameen Bank diaplikasikan di negara-negara maju seperti Amerika dan kisah-kisah sukses Yunus dalam mengembangkan konsep Grameen-nya karena pada akhirnya Grameen benar-benar bisa menjadi bisnis sosial yang sangat menguntungkan dimana porsi saham perusahaan
paling besar dipegang oleh kaum miskin atau peminjam mereka sendiri. Dan diakhir buku dicantumkan pidato Yunus ketika mendapatkan hadiah nobel perdamaian.


Terus terang buku ini sangat menarik dan tidak akan bosan untuk dibaca berulang kali karena bahasanya yang sangat sederhana seperti membaca buku cerita. Buku setebal 267 halaman ini gw baca hari ini 2 kali dalam perjalanan Semarang-Muntilan (Magelang) ketika mengantarkan adik perempuan gw ke sekolah asramanya. Gw jarang merasa terharu dalam membaca sebuah buku tetapi dalam bab-bab tertentu gw merasa tergerak oleh cerita-cerita Yunus dalam perjuangannya, pemikirannya dan kisah sukses beberapa kaum perempuan yang miskin yang bisa keluar dari belenggu kemiskinan dan bahkan ke jenjang ekonomi yang sangat-sangat baik. Buat gw sendiri buku ini menjadi sebuah motivator karena pekerjaan gw berhubungan erat dengan kaum perempuan (baca: ibu-ibu PKK) dan jadi bahan evaluasi untuk gw sendiri yang belum optimal dalam memberikan pendampingan ke ibu-ibu Jomblang.

Jadi buku ini highly recommended untuk di baca oleh siapa saja yang ingin mata hatinya dibuka untuk melihat dan berbuat sesuatu untuk lingkungan sekitar kita sendiri. Selamat membaca.

Catatan: situs Grameen Bank dapat dilihat di http://www.grameen-info.org

Wednesday, July 04, 2007

Kopi Pisang ala Kafe Banaran

Makan pisang sambil minum kopi mungkin sudah biasa, apa lagi minum kopi sambil makan pisang (apa bedanya coba? :p ) tapi kalo minum kopi pisang?? Ini bukan sekedar kopi dengan rasa pisang yang sekedar dicampur dengan esen pisang tetapi benar-benar perpaduan kopi pisang. Menu minuman ini saya coba di Kafe Banaran, Bawen. Kalo kamu pencinta kopi kayaknya memang harus minum kopi yang satu ini.

kopi pisang

Yang belum tau daerah Bawen, Bawen terletak di jalan antara Semarang dan Solo. Kafe Banaran merupakan agrowisata, tetapi karena baru pulang juga dari survey di Agrowisata Tlogo,Tuntang jadi saya (dan teman kantor) hanya mampir di Banaran untuk bersantai sejenak dan mencoba beberapa menu kopi disana

Kita memesan Banana Coffee, Cappucino dan Latte. Untuk cappucino dan latte rasanya ya standar untuk cappucino dan latte (baca: enak :p ) tapi untuk yang banana coffee ini rasanya agak luar biasa.Pertama kali cicip, yang terasa ya kopi rasa pisang. Dua kali cicip lidah sudah tidak bisa merasakan mana rasa kopi dan mana rasa pisang. Rasanya memang berpadu ya rasa kopi ya rasa pisang, gak bisa dibedakan mana yang lebih kuat, artinya rasa kopi pisang ini memang dasyat. Menurut pengamatan saya yang sok tau ini kelihatannya buah pisangnya di jus dengan air kopi atau bagaimana, tetapi yang jelas pasti buah pisangnya di jus (ya iyalah?!?!!?! :p)

Untuk harga sepertinya tidak terlalu mahal karena kopi pisang ini dihargai Rp.7000 saja dan untuk kopi yang lain yang kami pesan sekitar Rp. 13.000. Harga yang standar untuk menikmati rasa kopi yang nikmat. Gw gak tau apa di kota atau daerah lain ada yang menjual kopi jenis ini tapi kalau ada mohon berbagi tipsnya yah :)