<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=10674456&amp;blogName=Will+you+keep+on+dreaming+or+live+you...&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fdidut.nomadlife.org%2Fdefault.aspx&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Mengejar Mas-Mas

Monday, June 04, 2007 by Adi

Apa yang akan terjadi bila seorang anak perempuan yang lari dari rumah dan tidak punya uang mendapat perlindungan dari seorang wanita pekerja seks? Ya, itulah inti cerita dari film mengejar mas-mas. Film komedi-drama romantis ini mengeksplorasi hubungan antara Ningsih, sang pelacur yang diperankan oleh Dinna Olivia dengan Shanaz (Popy Sovia) dan juga keduanya dengan Parno (Dwi Sasono).

Film ini diawali dengan pelarian Shanaz dari rumah karena konflik dengan ibunya. Shanaz berniat untuk mengejar pacarnya, Mika (Marcell Anthony) yang sedang naik gunung, untuk bertemu di Yogyakarta. Tetapi karena Mika sudah terlanjur naik gunung dan Shanaz tidak mempunyai cukup uang untuk menginap sampai akhirnya Shanaz terdampar di daerah Malioboro tanpa sepeser uangpun.

Pertemuan antara Shanaz dan Ningsih diawali ketika Ningsih menolong Shanaz dari godaan preman yang hendak memperkosanya. Dari sinilah Shanaz cerita dibangun, ketika Shanaz belajar untuk menerima kehidupan sederhana Ningsih yang sangat berbeda dengan kehidupannya di Jakarta yang sangat mewah, ketika Shanaz melihat 2 identitas Ningsih yang berbeda ketika 'bekerja' dan ketika sedang berada di kos tempat tinggalnya yang sangat normal.

Konflik mulai dibangun lagi ketika Shanaz mulai berkenalan dengan Parno, pengamen lugu yang
pelan-pelan mendapatkan tempat di hati Shanaz tetapi ternyata pernah menjalin hubungan dengan Ningsih (spoiler: kalo liat pas Parno cerita hubungannya dengan Ningsih pasti ngakak abis deh :P )

Bagusnya film ini
Gw pikir Rudi Sujarwo sudah menelurkan 1 film yang sangat bagus untuk dilihat penikmat film indonesia. Gw udah hampir 'muntah' (hiperbola neh) ngeliat layar film indonesia yang ada di bioskop dipenuhi oleh film horor (dan emang dasarnya gw gak suka fim horor :p ) . Biasa streotype pembuat film indonesia yang suka ikut-ikutan bikin film sejenis kalo lagi laku. Ngeliat film ini dan Kala sebelum ini paling gak bisa membuat mata ini segar kembali.

Kembali ke mengejar mas-mas, perpaduan soundtrack yang dilagukan oleh Monty Tiwa dengan jalan cerita sungguh sangat pas. Kadang sebuah adegan hanya diisi oleh bahasa tubuh dan lagu tetapi sudah sangat menggambarkan perasaan dari adegan itu sendiri, dari suasana yang sedih, gembira maupun romantis. Gw sendiri masih mau beli sountracknya nih gara-gara emang top abiezzz.

Dialog antara ketiga pemeran utamanya pun terjalin dengan sangat apik. Seringkali kita bisa tertawa lebar oleh dialog Parno yang lugu dengan Shanaz yang sangat gaul khas Kota Jakarta ataupun oleh kebiasaan Ningsih sehari-hari yang sangat diluar kebiasaan (seperti menyemprotkan parfum ke ....(tonton sendiri yah :P ). Tetapi kitapun bisa tercenung ketika Ningsih bercerita tentang masa lalunya.

Background
Latar belakang film ini adalah Kota Yogyakarta yang digambarkan sangat gamblang melalui penggambaran Jl. Malioboro ataupun landmark Kota Yogyakarta yang terkenal seperti Tugu Yogya Kembali ataupun Sarkem itu sendiri (Pasar Kembang)

Akhirnya
Film ini boleh gw bilang merupakan sebuah masterpiece dari Rudi Sujarwo setelah Ada Apa Dengan Cinta, malah gw bilang film ini lebih dari AADC karena berhasil menggabungkan komedi-drama dan romantis sekaligus. Kekurangan dari film ini hampr gak ada kalo boleh gw bilang dari sudut mata gw yang sangat tidak ahli ini karena kalaupun ada akan tertutupi oleh tawa kita sepanjang film ini dan kenikmatan kita saat mendengar lagu dari Monty.
Film ini juga patut untuk dilihat karena kita bisa melihat potret lain dari seorang pelacur. Seringkali kita selalu dengan mudahnya men-cap seorang pelacur itu adalah seseorang yang sangat hina tanpa mengetahui latar belakang orang tersebut.
Masih terdengar sayup-sayup ditelinga ini lirik-lirik dari Monty....."Aku mencintaimu seperti pencandu suka sabu...."
PS: gambar diambil dari situs mengejar mas-mas dan postingan terkait bisa dilihat di blognya Dendi dan Fany

mengejar mas-mas

Labels:

Baca selengkapnya...

Kala

Saturday, April 21, 2007 by Adi

[Kala] Janus&Sari

Berawal dari YM dengan Budi dan telpon singkat dari Dendi, kamis sore itu meluncurlah gw ke E-Plaza. Tadinya gw udah nolak ajakan Dendi soalnya gw paling gak demen dengan yang namanya film horor, apalagi film horor Indonesia, karena gw sangka kalo Kala buatan sutradara Joko Anwar ini film horor tapi Dendi memastikan bahwa film ini hanya thriller bukan horor. Ternyata sampai duluan di E-Plaza padahal sempet nyobain kebab dulu sebelum masuk (jadi pengen posting tentang kebab :p)

Film dimulai dengan cerita misteri kematian beberapa orang dengan cara yang sangat mengerikan yang diselidiki oleh Eros (Arie Bayu). Lalu setting berpindah untuk menceritakan karakter utama lainnya yaitu Janus (Fachri Albar) seorang wartawan yang mengidap sutau penyakit aneh yang akut sehingga mengakibatkan istrinya Sari (Shanty) berniat menceraikannnya. Lalu cerita bergulir dari penyelidikan Janus terhadap orang-orang yang berada disekeliling peristiwa pembakaran diawal.
Sempet panik diseperempat film pertama karena nuansa mistis mulai muncul dengan munculnya suatu perwujudan roh (sumpah gw gak suka film horor dan niat gak bayar full ke Dendi ...serius nih den :P ) tapi ternyata nuansa mistis itu hanyalah salah satu daya pikat dari film ini, ada daya pikat yang lain yang lebih mempesona sehingga gw bisa melupakan suasana mistis tadi yang hanya muncul di beberapa adegan saja. Daya pikat itu adalah background film ini yang berupa kota lama di Semarang. Karena gw sering ke kota lama buat kerjaan dan juga nemenin temen jalan kaki mengelilingi kota lama jadinya gw hafal betul setiap setting gedung yang digunakan. Joko Anwar sangat baik sekali memadukan setting kota lama ini sebagai salah satu kekuatan filmnya, tetapi karena setting ceritanya sendiri tidak mengarah ke Indonesia maka setting kota lama ini juga tidak digambarkan secara gamblang.
Film ini secara keseluruhan cukup menarik karena gw pikir belom banyak film indonesia (sekarang) yang menyuguhkan film dengan pencahayaan gelap dengan baik seperti biasanya film yang menggambarkan setting waktu jaman dulu. Setting barang-barang pendukung dalam film ini diperhatikan dengan sangat baik seperti kamera kuno yang dipergunakan oleh Agus Melasz sampe telpon umum yang banyak dipergunakan dalam cerita film ini.
Inti ceritanya sendiri mengenai kedatangan sang penyelamat yang akan datang untuk menyelamatkan negara antah berantah tersebut dari kekacauan. Gw gak mau cerita lebih detil tapi pokoknya film ini gw recomended walaupun buat orang yang gak suka film thriller, soalnya jarang ada sineas indonesia yang bisa buat film bagus kayak gini. MAJU TERUS FILM INDONESIA!!
PS: satu lagi, adegan lumayan panas antara Janus dan Sari juga sayang kalo dilewatkan hihihi~
Situs resmi kala ada di sini dan gambar diambil dari sini
Posting terkait oleh Budi & Dendi

Labels:

Baca selengkapnya...

about


A man, stay in semarang, central java, work on environmental field and love to eat

Also a link to profile may show up here.

search

recent posts

recent comments

archives

blogroll

loenpia

nomadlife

community

shoutbox

accecories

admin