<body><iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=10674456&amp;blogName=Will+you+keep+on+dreaming+or+live+you...&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fdidut.nomadlife.org%2Fdefault.aspx&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div id="space-for-ie"></div>

Menanam yuk.....

Saturday, December 23, 2006 by Adi

seruni
Hari ini ibu-ibu kelompok Seruni (Kelompok pengelola keranjang Takakura di RW XI, Kelurahan Jomblang) dateng ke kantor buat acara tanem-tanem. Kegiatan ini sebenernya cuman acara nanem tanaman sambil ngobrol ngalor ngidul buat memperkuat pertalian kelompok. Ternyata daku yang selalu ngomong soal sampah ke mereka kalah jauh kalo soal tanaman. Jadi Mari Menanam & Hijaukan Lingkungan Kita dan Hidup IBU2x!!!!!
Baca selengkapnya...

kenikmatan duniawi

Saturday, December 16, 2006 by Adi

blogwalking+kopi+soto dan cemilan-cemilannya
Baca selengkapnya...

[travelogue] Karimunjawa

Thursday, December 14, 2006 by Adi

Sudah beberapa kali ke Karimunjawa tapi belum pernah nulis. Mungkin masih banyak orang yang mikir kalo mau ke Karimunjawa itu itu ribet padahal sih gak sama sekali, tapi memang kekurangannya masih belom ada travel agen yang punya program buat ke Karimunjawa jadi buat yang mau ke Karimunjawa kudu punya usaha dikit, tp bisa gw garansi kalo perjalanannya bakal worthy banget. Buat posting-an kali ini gw pilih buat tipe perjalanan yang simple dulu, bisa aja sih kalo mau yang pake feri dari Jepara kalo yang mau lebih murah tp posting-an yg ini mau cerita pake kapal cepat dulu :)
Berangkat
Seperti yang gw bilang diatas, belom ada travel agen yang punya paket ke Karimunjawa untuk perjalanan privat, kalo grup bisa kali yah. Oktober kemarin kita pake Kapal cepat Kartini dari pelabuhan Tanjung Emas, Semarang. Tiket kapal cepat bisa didapet di Dinas Perhubungan Propinsi yang ada di Jalan Pamularsih, bisa dibooking dulu jadi gak usah khawatir kalo gak dapet info soal tiket. Kapal cepat ke Karimunjawa dari Semarang cuma tersedia hari Sabtu dan hari Rabu. Berangkat jam 9 pagi dengan perjalanan sekita 3,5 jam. Buat yang gampang mabuk laut bisa duduk di dek belakang, biasanya juga penuh soalnya kalo ombaknya lagi besar orang gampang banget kena mabuk laut. Fasilitas tempat duduk kapal cepat bagus, dan biasanya ada musik dan film sepanjang perjalanan walaupun kalo gak duduk didepan filmnya gak bisa kedengeran. Tiket kapal cepat bisa didapatkan dengan harga Rp. 110.000, sedikit mahal memang tp memang fasilitasnya sepadan dan bisa langsung ke Karimunjawa dengan cepat. Perjalanan kali ini disetting 3 hari 4 malam, dari hari sabtu sampai hari selasa.
Akomodasi dan transportasi
Buat tempat menginap di Karimunjawa, gak ada masalah karena banyak penduduk setempat yang menyediakan homestay. Gw biasanya nginep di Homestay HAMFAH kepunyaan Pak Arif, kelebihan homestay ini selain memang homestay yang pertama disitu (menurut cerita yang punya) juga Pak Arif bisa mengatur semua perjalanan kita termasuk buat snorkeling atau diving karena beliau juga instruktur diving yang berlisensi, tarif homestay Rp.80.000/malam termasuk 3 kali makan. Hari pertama kita habisin buat liat-liat sekitar Karimunjawa dengan mobil. Tips lagi kalo mau ke Karimunjawa, melaporkan perjalanan kita ke Balai Taman Nasional Karimunjawa (BTNK) di Jl. Pahlawan buat bikin surat SIMAKSI (bayar 5.000-an kalo gak salah). Bikin surat permohonan aja terus daftar kesana, sehari jadi. Dengan surat SIMAKSI kita bisa minta tolong buat pake mobil Ranger (polisi hutan) disana dan didampingi ranger-nya sekalian sebagai guide, mobilnya nyaman dan kita cuma mengganti ongkos bensin dan uang rokok. Kalo pake mobil orang lokal juga bisa tapi biasanya mobil pick up yang bisa buat pantat kita nyut-nyutan soalnya jalan di Karimunjawa berbatu-batu dan harganya cukup mahal menurut gw soalnya guide lokalnya kurang bisa menjelaskan keanekaragaman hayati yang ada di sana.
homestay pemandangan

Diving/snorkeling
Hari ke dua kita habisin buat ke laut. Ada 27 pulau di Kepulauan Karimunjawa. Guide di Karimunjawa biasanya sudah punya beberapa titik yang bisa buat snorkeling. Kemarin kita sempat snorkeling di Kemujan kecil dan besar juga mampir di Pulau Cemara (kalo gak salah). Asli airnya bersih banget dan masih sangat alami jadi kita bisa melihat terumbu karang dengan jelas. Biasanya acara ke laut selesai jam 3-an dan bisa nambah berenang dengan hiu kalo mau. Jadi ada orang yang menangkar ikan hiu dan dengan membayar 10.000 – 20.000-an kita bisa berenang dengan hiu (dgn guide tentunya). Biaya sewa perahu Rp.300.000 (sampai 10 orang),biaya sewa alat snorkeling Rp.35.000 dan biaya guide snorkeling Rp.75.000 (sampai 5 orang kalo gak salah).
hiu snorkeling cemara
Tracking
Hari ketiga kita tracking ke Desa Legon Lele. Desa ini sebetulnya sudah mati karena sudah ada orang yang membeli tanah mereka (buat investasi katanya), tapi masih ada sekitar 10 keluarga yang tinggal di desa ini. Jalur tracking bisa disetting berat atau ringan tergantung permintaan pengunjung, ranger dari BTNK pastinya sudah hafal luar kepala buat jalurnya. Kalo yang suka nge-camp, ada fasilitas camping ground di Legon Lele. Kegiatan lain yang bisa dilakukan sembari tracking adalah bird watching, dengan fasilitas dari ranger kita bisa dipandu buat melakukan aktivitas bird watching, buat pemula kayaknya kegiatan ini salah satu kegiatan favorit buat melupakan pegalnya kaki J Kalo perjalanan yang ringan biasanya 3 jam juga sudah selesai, itu juga kalo istirahatnya gak banyak, kalo mau lebih jauh bisa ke puncak salah satu bukit dan melihat Karimunjawa dari atas bukit.
Sunrise/sunset
Ini merupakan sajian istimewa dari Karimunjawa, kita bisa melihat indahnya sunset setiap hari. Untk sunrise-nya perlu usaha keras dan keberuntungan, selain harus jalan dulu 30 menit-an, belom tentu pula bisa ngeliat sunrise karena berawan. Kata Pak Arif sih tim dr TV 7 aja ndekem 5 hari cuman dapet 1 ataw 2 kali gitu sunrisenya.
sunset
Perjalanan Pulang
Jadwal kapal cepat sedikit ribet buat yang ke Jepara. Buat yang hari selasa cuma tersedia minggu II dan IV setiap bulannya, kecuali kamu mau tinggal lebih lama sampai hari Kamis. Kalo kapal feri sih setiap minggu ada tapi dengan perjalanan yang sedikit lama (6 jam-an). Sampai di pelabuhan Jepara kita dijemput mobil travel yang bisa bawa kita langsung kembali ke Semarang. Kelebihan mobil travel ini ya bisa jemput kita di pelabuhan terus nganter langsung ke Semarang. Kalo rombongan biasanya dia mau nganter ke tempat yang kita mau.

Tanpa bermaksud promosi ini kontak-kontaknya buat yang mau ke Karimunjawa:
Homestay Hamfah 097-312125
BTNK 024-8319709
Dinas Perhubungan 024-7602952
Putra Mandiri (shuttle car dr dan ke Jepara) 0291-3330733
Baca selengkapnya...

Dinner...

Tuesday, December 12, 2006 by Adi

Last night I have dinner with Marjolene, Jessica and Ellen. Kind of farrewel dinner because Marjolene will leave Semarang this week, Jessica & Ellen on a week after that. Got stomachache again coz too much eat :P
Baca selengkapnya...

Gathering............

Monday, December 11, 2006 by Adi

tukang loenpia
Last saturday Loenpia citizen visited my house to held gathering. No agenda on gathering this time, just chit chat, ate 1 durian, 1 plastic of rambutan, 1 box of martabak, 2 plastic casava chips & tons of tea and coffee :) After loenpia members arrived I suddenly realised that fruit season has came, my refrig fill with rambutan (nephelium tree bearing fruit similar to lychee) and 3 durians still waiting to enter my stomach until today *yippie!!* I don't know why most western people don't like taste of durian or this fruit is just for asia people beside the strong smell that durian has. Durian has unique taste, it can't described I think. As long you didn't eat too much your stomach will be fine but yesterday I mixed too many food in my stomach in the afternoon so I got stomacache. I put durian, rambutan, chicken soup and satay and not forget 2 package of kebab in my stomache in almost same time :P But green tea always help, for me just drink cup of green tea and the pain on stomach will be dissappear :D
Baca selengkapnya...

Mengelola sampah sendiri, mungkinkah?

Friday, December 01, 2006 by Adi

Hutan sampah? Hih males banget ngebayangin-nya, tapi begitulah yang terlihat dari Kota Bandung dari berita beberapa waktu yang lalu. Kita dapat melihat buangan sampah yang meninggi sampai setinggi rumah bertingkat ataupun proses belajar murid sebuah sekolah yang sangat terganggu akibat bau yang sanget menyengat dari tumpukan sampah tersebut. Kalau kita melihat tayangan tersebut harusnya kita bisa membayangkan berapa lama lagi sih TPA di Kota semarang bisa menampung buangan sampah kita? Karena pola pengelolaan sampah yang relatif hampir sama di kebanyakan kota-kota di Indonesia. Sebagai bayangan kita saja kota semarang menghasilkan 3500M3 sampah setiap harinya atau setara dengan 600-700 ton/hari. Sekitar 61,95% merupakan sampah organik yang masig dapat untuk diolah kembali (PemKot Semarang,2001). Data juga menunjukkan bahwa sekitar 75% merupakan kontribusi buangan dari pemukiman atau dari rumah kita sendiri. Yang artinya kalau kita mau mengelola buangan sampah kita sendiri artinya kita sudah mengurangi beban TPA pada akhirnya.

Hah? Mengelola sampah kita sendiri? Repot-repot amat, wong tinggal dibuang ke depan rumah. Itu pasti pikiran sebagian besar dari kita, tapi sekarang toh ada pengelolaan buangan sampah organik rumah yang tidak merepotkan orang rumah dan tidak terlihat sebagai tempat sampah , namanya keranjang Takakura yang ditemukan oleh pak Takakura berkat penelitian beliau di Surabaya. Keranjang ini kalau dilihat ya sama dengan keranjang penyimpan baju atau koran yang dijual di supermarket karena memang dibeli dari tempat penjualan yang umum tetapi yang membedakan adalah keranjang Takakura didesign untuk menerima buangan sampah organik rumah yang akan mengubahnya menjadi kompos. Keranjang ini amat ’sakti’ kalo kata orang Surabaya yang sudah terlebih dahulu mencobanya karena keranjang ini bisa menerima buangan sampah organik rumah tangga selama sebulan penuh atau lebih dan tidak berbau sama sekali. Saya tahu kerepotan kita kalo menaruh tempat sampah didalam rumah yang diwadahi plastik, yang pertama pasti bau setelah sampah menumpuk setelah beberapa hari, kita juga melihatnya seringkali jijik melihat sampah yang membusuk, karena hal-hal tersebut pasti kita mengganti plastik untuk menampung setiap harinya yang berakibat kita harus menyediakan wadah plastik setiap hari, padahal wadah plastik itu sendiri merupakan beban sampah di TPA nantinya. Pengguna keranjang Takakura dengan pengelolaan yang benar selain tidak berbau, sampah yang dimasukkan juga tidak akan membusuk karena nantinya bakteri yang sengaja dimasukkan ke dalam keranjang ini akan memakan sampah yang kita buang dan menjadikannya kompos dengan proses fermentasi, bukan pembusukan. Caranya cukup dengan menimbun sampah dengan bakteri diatasnya dan diaduk. Sampah yang dibuangpun sebaiknya sampah yang segar seperti sisa sayur yang baru saja kita potong kita langsung masukkan, jadi kita juga tidak merasa jijik untuk melihatnya.

takakura neh (Small) (Pengguna sedang memasukkan sampahnya ke Keranjang Takakura)

Sekitar 50% dari pengguna keranjang Takakura di RW IX, Kelurahan Jomblang Kecamatan Candisari mengatakan bahwa mereka tidak pernah membuang sampah organik lagi dan malah beberapa dari mereka meminta sampah dari tetangganya karena sampah rumahnya sendiri sangat sedikit atau tidak sabar untuk melihat keranjangnya penuh dan ingin segera menggunakan komposnya. Ibu Suradi-pengguna di RW IX RT 03-mengatakan bahwa sampah yang dimasukkan memang tidak berbau dan seringkali malah harum seperti bau tempe. Memang masih ada pengguna yang kurang berhasil atau malah sampahnya busuk karena kurang mengelola sampah yang dimasukkan seperti diaduk secara teratur. Seperti badan manusia yang perlu perhatian, keranjang inipun perlu sedikit perhatian kalau mau bertahan selama tahunan.

Rata-rata buangan sampah kota adalah 0,5 kg/kapita/hari (Mengelola sampah perkotaan, H. R. Sudrajat, M.Sc, 2006) dan bila diasumsikan 60%-nya adalah sampah organik dan rata-rata penghuni rumah warga Kelurahan Jomblang adalah 4 orang, maka pengguna keranjang Takakura rata-rata bisa mengurangi buangan sampah organik rumah sebanyak 36 Kg/bulan. Jadi kalau ada cara yang mudah untuk membuat sampah kita tidak bau, mengurangi beban pikiran kita untuk menyediakan plastik setiap hari dan menyediakan pupuk kompos secara ’otomatis’ setiap bulan untuk tanaman depan rumah kita, apa salahnya kalau kita mencobanya. (Artikel terkait...)

Baca selengkapnya...

about


A man, stay in semarang, central java, work on environmental field and love to eat

Also a link to profile may show up here.

search

recent posts

recent comments

archives

blogroll

loenpia

nomadlife

community

shoutbox

accecories

admin